Rabu, 06 November 2024

Kebersamaan di Meja Sederhana

Cerpen: Kebersamaan di Meja Sederhana
Kreator: Cerpen ini ditulis oleh seorang penulis dari Madura.Abd karim

Di sebuah sore yang hangat, Aswan duduk bersama teman-temannya di ruang tengah rumahnya. Mereka sedang belajar bersama, mengerjakan tugas sekolah, dan sesekali bercanda untuk menghilangkan penat. Ibu Maimunah, ibunda Aswan, tiba-tiba muncul dengan membawa baki penuh berisi jajanan sederhana: pisang goreng, singkong rebus, dan segelas teh hangat untuk setiap anak.

“Ini, Nak. Ajak teman-temanmu makan, biar makin semangat belajarnya,” kata Ibu Maimunah dengan senyum lembut.

“Aswan, kamu anak yang baik. Semoga bisa menjadi contoh yang bagus buat teman-temanmu,” tambah ayahnya, Pak Samsudin, sambil duduk di samping mereka.

Anak-anak terlihat senang menerima makanan tersebut, kecuali Aswan. Dia tampak ragu dan sedikit kecewa.

"Bu, apa nggak ada makanan yang lain? Kayak roti atau cokelat gitu," bisik Aswan kepada ibunya.

Mendengar itu, Pak Samsudin terdiam sejenak. Ia memandangi Aswan dengan tatapan penuh makna. Kemudian, ia berkata lembut, "Aswan, kenapa kamu ingin makanan yang lain? Bukankah kita semua sudah mendapat makanan yang sama di sini?"

Aswan menggaruk kepalanya, agak malu tapi tetap berkata, "Iya, Pak, cuma kan... kalau ada yang lebih enak, kenapa nggak? Toh, teman-teman juga nggak keberatan kalau aku makan yang lain."

Pak Samsudin tersenyum, mengusap kepala Aswan dengan penuh kasih. "Nak, tahukah kamu, dalam tasawuf, kita diajarkan untuk menghindari rasa lebih dari orang lain, terutama dalam kebersamaan?"

Aswan tampak bingung. "Apa maksud Bapak, ya?"

Pak Samsudin menarik napas sejenak, kemudian menjelaskan, "Saat kamu berkumpul dengan teman-temanmu, makanlah apa yang mereka makan. Ketika kamu diberi sesuatu yang lebih baik, ingatlah, itu adalah ujian bagi hatimu untuk tetap rendah hati dan sederhana. Dalam kebersamaan, tak perlu merasa lebih dari yang lain. Jika kita terbiasa merasa lebih, kita bisa lupa akan kesetaraan dan rasa syukur."

Aswan mulai merenung. "Tapi, Pak, kalau kita punya kesempatan untuk yang lebih enak, kenapa nggak kita ambil?"

Pak Samsudin tersenyum bijak. "Karena, Nak, dunia ini sering kali menggoda kita untuk selalu ingin lebih. Namun, kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki yang terbaik atau terbanyak, tetapi bagaimana kita mampu berbagi dan merasa cukup bersama orang-orang di sekitar kita. Seperti kata guru-guru tasawuf, ‘Kebahagiaan ada pada hati yang merasa cukup, bukan pada harta yang melimpah.’"

bu Maimunah menambahkan, "Dan, Aswan, bukankah lebih indah ketika kita makan bersama, merasakan kehangatan yang sama, tanpa memandang siapa makan apa? Hal-hal sederhana seperti ini yang akan mengajarkan kita makna persaudaraan yang sesungguhnya."

Mendengar kata-kata itu, Aswan merasa malu, tapi juga mengerti. Ia menunduk dan berkata pelan, "Iya, Bu... Pak... Aswan paham sekarang. Mulai sekarang Aswan nggak akan minta yang lain kalau sedang bersama teman-teman."

Pak Samsudin tersenyum lega. "Bagus, Nak. Ingatlah selalu, menjadi sederhana adalah kekayaan hati yang tidak bisa dibeli. Seorang hamba yang baik tidak merasa lebih dari yang lain, tapi bersyukur atas yang ada di hadapannya."

Malam itu, Aswan dan teman-temannya menikmati pisang goreng dan teh hangat dengan penuh sukacita, tanpa ada rasa ingin lebih atau kurang. Dalam kebersamaan itu, Aswan menemukan ketenangan dan kebahagiaan yang sederhana—sebuah pelajaran yang akan ia kenang seumur hidup.


 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketergantungan pada Alam: Mengapa Pengamatan Cuaca Tradisional Masih Relevan Bagi Petani

   Laron biasanya muncul sebagai pertanda bahwa musim hujan sudah tiba, saat warga Madura bisa memulai musim tanam, khususnya untuk jagung d...