Cerpen: Kebersamaan di Meja Sederhana
Kreator: Cerpen ini ditulis oleh seorang penulis dari Madura.Abd karim
Di sebuah sore yang hangat, Aswan
duduk bersama teman-temannya di ruang tengah rumahnya. Mereka sedang belajar
bersama, mengerjakan tugas sekolah, dan sesekali bercanda untuk menghilangkan
penat. Ibu Maimunah, ibunda Aswan, tiba-tiba muncul dengan membawa baki penuh
berisi jajanan sederhana: pisang goreng, singkong rebus, dan segelas teh hangat
untuk setiap anak.
“Ini, Nak. Ajak teman-temanmu
makan, biar makin semangat belajarnya,” kata Ibu Maimunah dengan senyum lembut.
“Aswan, kamu anak yang baik.
Semoga bisa menjadi contoh yang bagus buat teman-temanmu,” tambah ayahnya, Pak
Samsudin, sambil duduk di samping mereka.
Anak-anak terlihat senang
menerima makanan tersebut, kecuali Aswan. Dia tampak ragu dan sedikit kecewa.
"Bu, apa nggak ada makanan
yang lain? Kayak roti atau cokelat gitu," bisik Aswan kepada ibunya.
Mendengar itu, Pak Samsudin
terdiam sejenak. Ia memandangi Aswan dengan tatapan penuh makna. Kemudian, ia
berkata lembut, "Aswan, kenapa kamu ingin makanan yang lain? Bukankah kita
semua sudah mendapat makanan yang sama di sini?"
Aswan menggaruk kepalanya, agak malu tapi tetap
berkata, "Iya, Pak, cuma kan... kalau ada yang lebih enak, kenapa nggak?
Toh, teman-teman juga nggak keberatan kalau aku makan yang lain."
Pak Samsudin tersenyum, mengusap kepala Aswan
dengan penuh kasih. "Nak, tahukah kamu, dalam tasawuf, kita diajarkan
untuk menghindari rasa lebih dari orang lain, terutama dalam kebersamaan?"
Aswan tampak bingung. "Apa
maksud Bapak, ya?"
Pak Samsudin menarik napas
sejenak, kemudian menjelaskan, "Saat kamu berkumpul dengan teman-temanmu,
makanlah apa yang mereka makan. Ketika kamu diberi sesuatu yang lebih baik,
ingatlah, itu adalah ujian bagi hatimu untuk tetap rendah hati dan sederhana.
Dalam kebersamaan, tak perlu merasa lebih dari yang lain. Jika kita terbiasa
merasa lebih, kita bisa lupa akan kesetaraan dan rasa syukur."
Aswan mulai merenung. "Tapi, Pak, kalau kita
punya kesempatan untuk yang lebih enak, kenapa nggak kita ambil?"
Pak Samsudin tersenyum bijak.
"Karena, Nak, dunia ini sering kali menggoda kita untuk selalu ingin
lebih. Namun, kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki yang terbaik atau
terbanyak, tetapi bagaimana kita mampu berbagi dan merasa cukup bersama
orang-orang di sekitar kita. Seperti kata guru-guru tasawuf, ‘Kebahagiaan ada
pada hati yang merasa cukup, bukan pada harta yang melimpah.’"
bu Maimunah menambahkan,
"Dan, Aswan, bukankah lebih indah ketika kita makan bersama, merasakan
kehangatan yang sama, tanpa memandang siapa makan apa? Hal-hal sederhana
seperti ini yang akan mengajarkan kita makna persaudaraan yang
sesungguhnya."
Mendengar kata-kata itu, Aswan merasa malu, tapi
juga mengerti. Ia menunduk dan berkata pelan, "Iya, Bu... Pak... Aswan
paham sekarang. Mulai sekarang Aswan nggak akan minta yang lain kalau sedang
bersama teman-teman."
Pak Samsudin tersenyum lega. "Bagus, Nak.
Ingatlah selalu, menjadi sederhana adalah kekayaan hati yang tidak bisa dibeli.
Seorang hamba yang baik tidak merasa lebih dari yang lain, tapi bersyukur atas
yang ada di hadapannya."
Malam itu, Aswan dan
teman-temannya menikmati pisang goreng dan teh hangat dengan penuh sukacita,
tanpa ada rasa ingin lebih atau kurang. Dalam kebersamaan itu, Aswan menemukan
ketenangan dan kebahagiaan yang sederhana—sebuah pelajaran yang akan ia kenang
seumur hidup.