Di Madura, tepatnya di wilayah Timur Raya, fenomena
alam tompuk masih menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakat. Setiap
tanggal 10 Oktober, di tengah suasana panas yang menyelimuti pulau ini, tompuk
membawa harapan dan persiapan bagi para petani yang bergantung pada tanda-tanda
alam. Pada hari tersebut, posisi matahari berada tepat di atas kepala,
menciptakan pantulan cahaya di dasar sumur, seolah menjadi sinyal alami bahwa
musim tanam sebentar lagi tiba.
Fenomena ini didasarkan pada ilmu perhitungan waktu
yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kreator MADURA STORIES bersama
sesepuh desa yang enggan disebut namanya, bercerita bahwa sekitar 40 hari
setelah tompuk, langit Madura biasanya mulai mendung, dan hujan yang
ditunggu-tunggu pun tiba. “Tompuk ini semacam isyarat dari alam,”
ujarnya. “Ketika cahaya itu muncul, kami tahu bahwa persiapan ladang harus
dimulai.” Di Madura, menanam bukan sekadar soal teknik, tetapi juga memahami
pesan alam yang menjadi panduan hidup masyarakat pulau ini sejak ratusan tahun
silam.
Kini, di tengah perubahan iklim dan teknologi
modern, masyarakat Madura tetap setia dengan tradisi tompuk. Meski
sebagian generasi muda mungkin tidak lagi sepenuhnya menggantungkan hidup pada
hasil ladang, kebiasaan menanti hujan dan bersiap menanam setelah tompuk
tetap hidup. Beberapa dari mereka bahkan mengabadikan momen ini melalui foto
dan membagikannya di media sosial, memperlihatkan sisi lain dari kehidupan
agraris Madura yang menyatu dengan alam. Dengan langkah ini, fenomena tompuk
tetap lestari, menjembatani kearifan lokal dengan sentuhan modern, menambah
warna pada identitas budaya Madura.
Diceritakan oleh: Madura Stories – Menjaga dan Menghidupkan Kearifan Lokal Madura
Tidak ada komentar:
Posting Komentar