Pada hari yang cerah, tanggal di bulan Oktober 2024, saya mengunjungi rumah seorang sahabat di kawasan Duke. Di sana, perhatian saya tertuju pada sebuah guci tua yang terbuat dari semen. Guci itu, yang telah berusia puluhan tahun, berdiri kokoh tanpa terpengaruh oleh modernisasi, tetap setia menyimpan air segar untuk kebutuhan sehari-hari.

Sahabat saya bercerita tentang nilai kesederhanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di era modern ini, ketika air kemasan begitu mudah ditemukan, keluarga mereka tetap mempertahankan guci tradisional ini sebagai simbol akar budaya yang kuat. Guci tersebut bukan hanya sekadar wadah air; ia menjadi pengingat bahwa dari dulu hingga kini, hidup dapat berjalan dengan peralatan sederhana yang tetap relevan.
Keberadaan guci tua ini seolah membawa kita kembali ke masa ketika semua kebutuhan dipenuhi dengan alat yang ada di sekitar, tanpa teknologi canggih. Walaupun waktu terus bergulir, budaya dan tradisi yang tertanam sejak dahulu masih berdiri teguh. Benda-benda sederhana seperti guci ini melambangkan kekuatan budaya yang terus bertahan di tengah gempuran modernisasi—sebuah cermin dari nilai-nilai luhur yang dijaga dan dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari.
Tulisan ini saya tempatkan di Madura Stories sebagai kisah dari masa lalu yang terus hidup di zaman kini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar